Kata dalam Pena

Tradisi Lebaran yang Tak Pernah Pudar

8 Jul 2015 - 16:40 WIB

Lebaran merupakan momen berharga bagi saya dan keluarga. Di hari yang suci dan fitrah ini kita dapat berkumpul bersama sama dalam suasana yang penuh kemenangan setelah sebulan penuh lamanya menjalankan ibadah puasa. Lebaran juga waktu yang tepat untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan serta melepaskan rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Karena diantara kami yang sudah berkeluarga tinggal di kota yang berbeda dan jauh dari tempat tinggal orang tua. Seolah olah waktu lebaran yang hanya sebentar kita maksimalkan bersama-sama dengan kebersamaan di waktu lebaran. Jarang sekali kami berkumpul bersama seperti ini kalau bukan lebaran ataupun acara besar keluarga seperti pernikahan.

Pada malam hari menjelang lebaran biasanya selalu ada malam takbir keliling yang diadakan di alun-alun kota saya. Banyak orang berkumpul baik itu dengan yeman-temannya maupun dengan keluarganya. Ada yang membawa motor maupun mobil hanya sekedar untuk menonton takbir keliling. Seringkali juga disertai dengan bunyi petasan. Saya dan keluarga besar nenek selalu pergi berbondong-bondong dengan mobil menyaksikan takbir keliling. Suasana sangat ramai dan hiruk pikuk sekali. Bahkan selesai kami menonton takbir keliling, kami pun berkeliling mengitari kota. Suasan lebaran begitu terasa dan inilah hari kemenangan yang kita tunggu-tunggu. Suara takbir terdengar dimana-mana. Betapa besar keagungan Tuhan itu. Rasa haru, senang dan sedih bercampur menjadi satu.

 

Setiap kali menyambut lebaran banyak tradisi yang saya dan keluarga lakukan. Setelah melaksanakan Shalat Id,kami sekeluarga berbondong-bondong berziarah ke makam. Tidak hanya sekedar berziarah tapi kami mendoakan mereka yang sudah terlebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa agar amal ibadahnya diterima oleh Allah dan nantinya ditempatkan di syurga. Saya dan keluarga saya terlebih dahulu berziarah ke makam ayah. Baru setelah itu ke makan mbah, tante, nenek dan ponakan ponakan yang sudah meninggal. Seringkali kami juga bertemu teman ataupun saudara yang juga datang beziarah. Lalu kami saling bermaaf-maafan walaupun di pemakaman. Di pemakaman inilah yang membuat saya selalu ingat akan kematian. Bahwa hidup manusia di dunia ini hanya sementara dan apa yang kita miliki bukanlah apa-apa. Bila kita mati kita hanya meninggalkan jiwa dan tubuh kita saja. Seringkali air mata ini mengalir saat membacakan doa dan yasin untuk orang-orang tercinta yang sudah meninggal dunia. Maka dari itu janganlah pernah menyia-nyiakan hidup selama di dunia. Dan perbanyaklah amal agar Allah meridhoi segala amalan ibadah kita di dunia.

 

Setelah berziarah. Kemudian kami lanjutkan pulang ke rumah nenek. Kami yang merupakan keluarga besar nenek dengan 11 orang anak beserta cucu cicitnya berkumpul bersama. Lalu kami saling berbaris bermaaf-maafan. Bagi yang mempunyai angpau biasanya dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil entah itu cucu ataupun cicit. Sedangkan yang sudah bekerja tidak lagi mendapat angpau karena sudah mempunyai penghasilan sendiri. Cucu dan cicit- cicit yang kecil ini biasanya senang sekali dan berteriak-teriak ketika mendapatkan angpau. Ketika dibagi pun mereka harus berbaris supaya tertib.indah sekali melihat suasana seperti ini.

 

Dalam tradisi kami nenek selalu menyediakan makanan khas orang madura yaitu soto madura. Soto madura adalah soto yang terdiri dari ayam disuir-suir, telur ayam yang disuir, mie su’un, kentang goreng dan bawang merah goreng yang disusun sedemikian rupa. Makannya menggunakan lontong ditambah sambal, jeruk serta kecap manis. Kuahnya juga khas madura dan rasanya selalu membuat saya rindu ketika jauh dari kampung halaman. Biasanya nenek membuat dalam bentuk satu porsi yang sudah diracik ke dalam piring. Bila kami semua sudah datang dari shalat id, kami tinggal mengambil sepiring-sepiring. Kalaupun masih belum kenyang tinggal nambah lagi.

 

Menu lain yang biasa nenek saya siapin selain kue lebaran adalah sate dan sop kikil sapi. Nah ini dia yang kami suka. Menu ini disediakan di malam harinya. Kami keluarga besar selalu berkumpul bersama untuk makan menu tersebut di rumah nenek. Beruntung sekali rumah nenek cukup luas dan mampu menampung anak cucu dan cicitnya ketika lebaran.

 

Kalau dalam keluarga saya sendiri tidak pernah masak makanan khas lebaran, karena pas hari H makanan sudah disedikan di rumah nenek. Baru keesokan harinya ibu saya membuat menu yang sama di rumah sendiri yaitu soto madura. Memang sih menu ini gak ada habisnya dan gak ada bosennya kita makan. Karena lidah kami sangat akrab dan suka sekali dengan soto madura.

 

Malam harinya tradisi yang kami lakukan yaitu berkunjung ke saudara-saudara bahkan sampai menggunakan 5 mobil, karena keluarga kami adalah keluarga besar yang cukup banyak anggotanya.  Terkadang keluarga besar kami diundang salah satu keluarga nenek untuk makan malam disana bersama-sama. Kekeluargaan dan kebersamaan benar-benar kami ciptakan di saat lebaran ini.

 

Tradisi dari tahun ke tahun tak pernah terhapuskan. Neneklah yang menjadikan tradisi terus berlanjut dan tak pernah pudar. Saya kagum dan salut dengannya. Meskipun memiliki anak yang banyak, tetapi semua anaknya sangat akrab dan rukun satu sama lain. Bahkan cucu dan cicitnya juga. Di setiap lebaran kemanapun kita pergi dan bersilaturrahmi selalu saja bersama-sama.  

ngaBLOGburit


TAGS   #ngaBLOGburit2015 /


Author

blogger yang suka seni

Recent Post

Recent Comments

Archive