Kata dalam Pena

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

9 Oct 2015 - 00:56 WIB

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku. Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia.

Sebagai negara agraris yang terdiri dari berbagai pulau, tentunya mata pencaharian utama penduduk Indonesia adalah dibidang pertanian. Negara kepulauan dengan banyaknya sawah-sawah dan ladang menjadi bekal petani Indonesia dalam mengatasi masalah pangan. Mereka menggarap lahan pertanian dengan disiplin dan bisa memberikan kemakmuran bagi masyarakat yang lain. Masalah pangan menjadi sesuatu hal sangat sensitive dan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat suatu negara. Tidak hanya diperhatikan oleh masyarakat suatu daerah saja tapi juga perlu diperhatikan oleh Pemerintah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seiring dengan kenaikan rupiah terhadap dollar, mengakibatkan harga pangan menjadi melonjak di pasaran. Hal ini pastinya akan mengganggu stabilitas perekonomian negara kita. Masyarakat akan merasakan dampak yang akan terjadi nantinya. Angka kemiskinan akan semakin bertambah. Lihat saja saat ini, lahan-lahan pertanian sudah mulai berkurang. Tak hanya di kota-kota besar, bahkan di daerah-daerah yang biasanya sumber mata pencahariannya adalah pertanian. Banyak pembangunan dimana-mana. Tak hanya bangunan gedung-gedung perkantoran dan pendidikan. Namun juga mall-mall dan perumahan-perumahan. Lahan pertanian hilang tak bersisa. Hanya meninggalkan jejak sejengkal tanah saja. Sebenarnya sangat miris akan itu semua. Sebutan negara agraris yang digadang-gadang sepertinya sudah mulai pudar. Di kota besar, semua lahan sudah terbangun bangunan masif. Lalu kemana kita harus mencari lahan untuk bertani? Hal ini perlu diperhatikan lebih jauh lagi oleh Pemerintah. Apalagi sekarang ini masyarakat Indonesia yang menjadi petani sudah mulai bekurang. Sebagian besar dari mereka merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik dari segi gaji dan tempat kerjanya. Keahlian turun temurun dalam bidang pertanian di daerah pun tak dapat ditularkan kepada keturunanya. Sangat miris sekali ya.

 

Ditambah lagi, banyaknya hasil pertanian yang harus diimpor dari negara lain oleh pemerintah. Padahal semestinya kita yang digadang-gadang sebagai negara agraris seharusnya malah mengekspor hasil pertanian kita ke negara lain. Apakah ini sebagai bukti kemunduran negara kita. Ternyata kita masih belum mampu bersaing dengan kemajuan negara lain terutama di sektor ekonomi.

Petani dan Pangan

 

Petani dan pangan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Mereka saling berhubungan. Jika tidak ada petani, maka pertumbuhan pangan akan terhenti. Namun jika tidak ada pangan, maka jumlah petani akan tergerus. Sebagai negara agraris, petani itu adalah orang yang mulia. Merekalah yang berjuang dalam membantu pertumbuhan ekonomi negara kita. Merekalah yang bekerja dengan ikhlas untuk menghasilkan kebutuhan pangan bagi kita. Bayangkan jika mereka tidak ada dan jika lahan pertanian sudah berkurang. Tentunya kita tak akan punya sandaran dari bidang pertanian. Semua kebutuhan pangan kita akan selalu diimpor dari luar. Akankah menjadi seperti itukah negara kita nantinya?

 

Seperti kita ketahui bahwa seorang Petani adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian, dengan cara mengelola tanah untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman seperti padi, bunga, buah dan lain lain dan hasilnya nanti bisa digunakan untuk diri sendiri atau dijual kepada orang lain. Sedangkan Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang menghasilkan makanan atau minuman untuk dikonsumsi oleh manusia, termasuk juga Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

 

 

Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

 

Kebanyakan petani hidup di desa. Sebuah daerah dimana menjadi petani adalah mata pencaharian pokok bagi penduduk desa. Dulu lahan pertanian terbentang luas di semua pedesaan. Lahan hijau dan subur menampakkan indahnya pemandangan dan makmurnya desa tersebut. Namun kini… mulai sedikit lahan pertanian yang bisa kita temui. Bahkan sudah mulai bisa dihitung banyaknya.

 

Desa yang mempunyai lahan pertanian merupakan sumber utama produksi pangan kita baik itu berupa beras, jagung, susu, telur, daging, sayuran, dan lainnya. Desa dan petani tidak hanya mampu menghasilkan produk pangan saja. Namun bisa lebih daripada itu. Produk pangan yang aman dan berkualitas juga dibutuhkan selain untuk kesejahteraan masyarakat juga demi perbaikan gizi masyarakat terutama bagi perkembangan anak-anak generasi penerus bangsa. Pangan dan gizi adalah hal yang terikat, agar perkembangan pangan semakin berkembang. 

 

Petani tak hanya bertugas untuk memproduksi pangan sebanyak-banyaknya, namun keamanan dan kualitas produk pangan tersebut harus diperhatikan juga. Sehingga produktivitas pertanian menjadi meningkat dan masyarakat kita yang mengkonsumsi produk pangan menjadi sehat dan bergizi. Dalam hal ini perlu ada perbaikan mengenai keamanan dan kualitas produk pangan yang dihasilkan. Pantaslah kalau mereka disebut sebagai petani pejuang pangan dan gizi bangsaku. Perjuangan mereka penuh keringat yang tak henti bercucur. Rela berpanas-panas di tengah teriknya matahari. Rela mengeluarkan segenap tenaga untuk mencangkul, menanam, menggarap lahan, mengairi, melaut, menyemai dan lainnya. Meskipun tenaga yang besar dibutuhkan, tapi mereka ikhlas. Penghasilan yang tidak seberapa sudah menjadi tumpuan mereka dalam memperjuangkan hidup. Untuk itulah mereka disebut sebagai petani hidup dan mati bangsaku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Petani tidak dapat bekerja sendiri untuk memenuhi itu semua. Tapi perlu juga ada dukungan dan bantuan dari pemerintah termasuk lembaga pemerintahan di tingkat desa. Masyarakat juga berperan aktif terhadap terselenggaranya kebutuhan pangan yang aman dan bergizi. Tanpa kerjasama yang erat dan kuat, mustahil produktivitas pangan yang berkualitas dan berkuantitas akan tercipta. Petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku, merekalah tumpuan utama kita tetap hidup dalam perekonomian baik dengan produk pangan yang aman dan bergizi. Sehingga kita tak perlu lagi melakukan pengimporan produk pangan, yang jelas-jelas kita sendiri bisa memproduksinya. Selain itu jangan sampai produk pertanian yang kita hasilkan kalah bersaing dengan produk dari negara lain yang sejatinya lebih berkualitas dengan harga yang bersaing. Jangan sampai masyarakat kita sendiri lebih suka dan cinta dengan produk negara lain yang lebih berkualitas serta aman.

 

Meningkatkan Ketahanan Pangan

 

Pangan mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat dunia termasuk Indonesia. Jika ketahanan pangan terganngu maka akan berdampak terhadap segala segi pemerintahan terutama perekonomian, sosial dan politik. Maka dari itu perlunya ketahanan pangan bagi bangsa kita adalah demi kestabilan negara dan kesejahteraan rakyat Indonesia itu sendiri. Menurut UU No. 18/2012 bahwa Ketahanan Pangan adalah “kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.

 

Dengan adanya UU tersebut, jelaslah bahwa dengan memperkuat ketahanan pangan, maka otomatis akan memperkuat kedaulatan pangan (food soveregnity), kemandirian pangan (food resilience) serta keamanan pangan (food safety).

Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal”. Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi Pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat”. “Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga pilar dalam ketahanan pangan adalah ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility) fisik maupun ekonomi, dan stabilitas (stability). Ketiga pilar ketahanan pangan tersebut harus terpenuhi, sehingga masyarakat atau rumah tangga dapat memenuhi ketahanan pangannya masing-masing. Ketiganya harus terwujud bersama-sama dan tidak terpisahkan, bila salah satu tidak ada, maka ketahanan pangan akan rusak. Agar ketahanan pangan bisa ditingkatkan, maka perlu adanya kebijakan pangan yang mampu mengakomodasikan penawaran dan permintaan yang dihadapi di lapangan. Keterlibatan masyarakat dalam hal ketahanan pangan mampu meningkatkan kemadirian pangan yang juga akan melahirkan konsep kedaulatan pangan. Dalam hal ini peran masyarakat sangat diperlukan sehingga aspek lingkungan, sosial budaya dan politik pangan masyarakat lokal dapat berkembang pesat.

 

Hari Pangan Sedunia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai wujud nyata dalam memperingati Hari Pangan Sedunia, diadakanlah sebuah konferensi mengenai pangan dan gizi yang dihadiri oleh seluruh negara di dunia. Berawal dari konferensi FAO ke 20 di bulan November 1976 di Roma sehingga dicetuskannya resolusi No. 179 mengenai World Food Day yang disepakati oleh 147 negara anggota FAO, termasuk Indonesia. Resolusi tersebut menetapkan bahwa sejak tahun 1981 seluruh negara anggota FAO akan memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) setiap tanggal 16 Oktober. Pelaksanaan Hari Pangan Dunia pada tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 17-22 Oktober 2015 yang  dihadiri oleh 92 Duta Besar serta Presiden RI. Dengan adanya peringatan Hari Pangan Sedunia diharapkan bisa meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional terhadap pentingnya penanganan masalah pangan ditingkat global, regional dan nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah yang akan ditempatkan di Sumsel dikarenakan Pemprov Sumsel mempunyai peran aktif dalam bidang pertanian dan ketahanan pangan dan juga dimaksudkan untuk  menunjang Program Pemerintah dalam hal diversifikasi pangan sesuai dengan Surat Menteri Pertanian RI No : 153/TU/.220/M/6/2014 Tanggal 11 Juni 2014 tentang kesediaan Provinsi Sumsel sebagai penyelenggaraan HPS ke 35 Tahun 2015. Pelaksanaan HPS ke 35 dilaksanakan selama 5 hari di Jakabaring Sport City, Palembang. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemprov Sumsel  dalam penyelenggaraan perayaan Hari Pangan Sedunia ini yaitu dengan melakukan rapat pembahasan persiapan peringatan HPS ke 35 tahun 2015 di Ruang Rapat Bina Praja Pemprov Sumsel yang dipimpin oleh staf ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Keuangan Provinsi Sumsel, Muslim. Acara-acara gelaran yang dilakukan tentunya melibatkan seluruh para petani pangan serta masyarakat Sumsel itu sendiri, diantaranya seperti seminar, bazar, pameran, lomba-lomba, pengabdian masyarakat, publikasi dan penyiaran, hari puncak peringatan HPS, gelar teknologi, diplomatic tour, rekor Muri, serta pencanangan yang dipimpin Presiden RI berupa pemberian penghargaan pada petani/nelayan/kehutanan teladan, pemberian bantuan kepada petani berupa benih, bibit, peralatan pertanian, penghargaan ketahanan pangan nasional, arahan Presiden, melihat/meninjau gelar teknologi, lomba cipta menu beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA).

Dengan adanya peringatan Hari Pangan Sedunia ini diharapkan nantinya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap masalah pangan lebih dalam lagi. Masalah-msalah kekurangan pangan dan gizi yang dihadapi berbagai penduduk di dunia menjadi perhatian keras. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama dan solidaritas peran dari pemerintah, masyarakat, swasta dan pendidikan terhadap masalah pangan dan gizi yang dihadapi sehingga dapat mewujudkan ketahanan pangan nasional.

 

Pemberdayaan terhadap petani adalah hal yang menjadi PR bagi bangsa kita. Dimana selama ini para petani yang ada masih bersifat awam dengan segala macam teknologi mutakhir selama ini. Sebagai penggerak perekonomian bangsa, petani harus ditingkatkan lagi pengetahuannya, agar mampu memproduksi pangan dengan berbagai varietas dan dengan keunggulan serta kualitas pangan yang bergizi dan sehat. Kita juga harus mampu memberikan kesadaran kepada generasi-generasi muda terutama generasi dari petani, bahwa menjadi petani bukanlah pekerjaan yang hina. Justru pekerjaan itu adalah pekerjaan mulia dan mempunyai jasa besar erhadap perkembangan kemajuan pangan di negara Indonesia. Petani juga bisa memberikan masa depan yang cerah, bila hasil pertanian bagus dan meningkat, maka permintaan akan bertambah, sehingga kesejahteraan petani pun meningkat pula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agar dampak kekurangan lahan pertanian dan krisis pangan di negara kita tidak meningkat perlu adanya kebijakan kebijakan di bidang pertanian dan pembangunan. Selain itu juga bisa meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjadi petani. Diantaranya menurut saya adalah:

 

1. Membatasi pembangunan gedung-gedung dan perumahan di daerah

2. Mempertahankan ketahanan dan kedaulatan pangan

3. Memberikan edukasi kepada para petani tentang istimewanya pangan.

4. Memberikan pendidikan dan teknologi yang mumpuni agar para petani tidak tergerus oleh jaman dan mereka bisa memajukan pertaniannya dengan teknologi yang canggih saat ini. 

5. Mengadakan komunitas atau kelompok tani dengan memberikan penyuluhan dan pengetahuan tentang pertanian

6. Membangun koperasi tani untuk memenuhi kebutuhan petani dengan cara bagi hasil.

 

 


 

 

 

 

Referensi:

(http://www.sindonews.com)

http://www.spi.or.id/isu-utama/kedaulatan-pangan/

https://seafast.ipb.ac.id/publication/book/revolusi-hijau-2.2-ph-1.pdf

http://www.bulog.co.id/ketahananpangan.php

 

 

 


TAGS   #Petanitulangpunggungpangandangizibangsaku / #Petanihidupdanmatibangsaku / #produksipangan / #HariPanganSedunia / #pangandangizi / #Petanipejuangpangandangizibangsaku /


Author

blogger yang suka seni

Recent Post

Recent Comments

Archive